Museum Multatuli
The Legacy of Multatuli in Indonesia
This festival showcases a wide array of artistic and cultural expressions inspired by Max Havelaar. There’s a buffalo parade, reflecting the deep loss experienced by a young couple from Lebak, Saidjah and Adinda, as victims of colonial injustice in Max Havelaar. There are theatrical performances based on Max Havelaar, symposia on postcolonial ideas and reinterpretations of the novel, and film festivals that help young people in Lebak delve deeper into cinematography. We also staged an opera titled Saidjah and Adinda features real buffaloes on stage.
Multatuli di Indonesia
Museum Multatuli memiliki tagline “Museum Antikolonial Pertama di Indonesia”. Memiliki tujuh ruangan dengan benang merah pada novel Max Havelaar yang terkenal. Ruangan pertama selamat datang. Ruang kedua masuknya kolonialisme ke Nusantara. Ruangan ketiga tanam paksa. Ruang keempat Multatuli dan karyanya. Ruang kelima tentang Banten. Ruang keenam Lebak, dan terakhir Rangkasbitung di ruang ketujuh.
Bandar Banten
Sore Rabu itu, 14 Mei 2025. Ini pekan ke-32 kami membaca novel "Arus Balik" karya Pram. Bacaan kami hinggap di Bab 27: Demak Bergolak.
Persekutuan Rahasia
Dalam bab ini, kita seperti dibolakbalik dalam alur cerita antara ketegangan batin Ratu Aisah dan Sultan Trenggono yang belum mencapai titik temu karena sikap kepala batu sang Sultan ingin menguasai Jawa dengan memperkuat pasukan kuda, pasukan darat.
Petani Wiranggaleng
Pokoknya, Bab 30 itu seru banget. Rabu, 4 Juni 2025. Pekan ke-35 #BacadiRangkas
Banten Dikalahkan Demak di Ujung Kulon
Ini pekan ketiga puluh delapan membaca "Arus Balik" novel karya Pak #pramoedyaanantatoer di kegiatan #bacadirangkas.
Sepedaan ke Situs Patapan
Ini catatan sepedaan ke Situs Patapan di Kabupaten Serang. Salam.
Nasi Uduk, Es Campur, dan Musik di Gunung
Ini catatan bersepeda menuju Imah Kopi Gunung Karang tempat konser Musik di Gunung berlangsung, Sabtu (17/2/2024). Di perjalanan bersepeda sempat sarapan nasi uduk dan meneguk segelas es campur legendaris serta melalui jalur angker Lawang Taji.
Museum (Kembar) Multatuli
Obrolan dilanjut di bawah patung Multatuli. Jaraknya sekitar tiga menit dari museum. Cahaya matahari adalah kemewahan di sini. Juga Multatuli, tentu.
Perpustakaan Universitas Leiden
Menjadi pengunjung Universitas Leiden untuk waktu seminggu. Sore waktu Leiden. Nguntit Pak Amir Sidharta usai pertemuan dengan mahasiswa dan pengurus Museum Volkenkunde.










