Banten Dikalahkan Demak di Ujung Kulon

Berikut catatan singkat pekan ke-38 #BacadiRangkas novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer
Kami pindah dari patung ke Pendopo Museum Multatuli. Rabu sore, 25 Juni 2025 itu gerimis tetiba turun. Meski tidak menggigilkan tapi cukup membuat kami beringsut dan beranjak. Daripada kuyup lebih baik menghindar sedikit. Ini pekan ketiga puluh delapan membaca "Arus Balik" novel karya Pak #pramoedyaanantatoer di kegiatan #bacadirangkas.
Bab 33 yang kami baca Rabu sore pekan lalu itu judulnya "Demak Mulai Bergerak". Isinya apa sih? Apa? Oh ya, pasukan Demak mulai menyerang wilayah sekitarnya, yaitu Jepara, Kesantenan (Pati), Sunda Kelapa, Tuban, Lao Sam (Lasem), dan Banten. Khusunya sih serangan ke Tuban.
Dikisahkan Adipati Tuban meninggal dalam kesepian dan tanpa orang di sekitarnya. Hanya seorang pengawal yang melihatnya lalu menutup wajahnya dengan destar Adipati. Pengawal yang diutus Kala Cuwil Sang Wirabumi, Patih Tuban.
Saat Trenggono datang ke Kadipaten ia hanya melihat mayat Adipati Tuban tergeletak sendirian. Suasana tegang di Tuban Kota menjalar ke pelabuhan. Ada tokoh Pada menyaksikan di atas mercusuar yang ditinggalkan.
Di lain tempat pasukan Wiranggaleng di Malaka mulai menurun kemampuan perangnya karena kelelahan. Dan juga ditinggal oleh pasukan Aceh.
Hal yang menarik dari Bab ini bagi kami di Banten adalah adanya pertempuran prajurit Banten dan Demak di Ujung Kulon. Salah satu strategi Demak dalam mengalahkan Banten adalah dengan mendorong pasukan Banten berjalan membelah hutan sampai Ujung Kulon. Sementara pasukan Demak naik kapal. Di Ujung Kulon mereka menghabisi pasukan Banten. Banten pun jatuh.
Itu sih yang menarik di pertemuan kemarin. Selengkapnya kita ketemu lagi besok lusa mengenai kekacauan di Jawa. Salaman jauhan. Hepi reading group Arus Bali. Yuk, baca! Yuk, baca bareng!



