Petani Wiranggaleng

“Kita akan membuka huma, Idayu, mendirikan gubuk di pinggir hutan, di tepian desa.” Kalimat itu disampaikan Wiranggaleng saat bertemu kembali dengan Idayu setelah sekian lama dipisahkan oleh berbagai peristiwa. Kembali ke Awis Krambil, Wiranggaleng dapat melaksanakan impian-impiannya – impian bersama Idayu. Mendirikan pondok beratap injuk berdinding pelupuh, berdiri di atas tiang tinggi. Menjadi petani.
“Petani Wiranggaleng” yang menjadi judul pada Bab 30 berkisah tentang kehidupan sehari-harinya bersama Idayu dan kedua anaknya; Gelar dan Kumbang. Mereka hidup sebagai keluarga petani yang menetap di perbatasan desa. Makanan mereka gulai bebek dan nasi, selain berburu rusa yang dagingnya dikeringkan digantung di atas perapian buat persediaan. Membuat gula dari enau yang dicampur ampas kelapa dicetak ke dalam potongan-potongan bambu.
Makanan-makanan itu, tidak seperti teman-teman #BacaDiRangkas pada setiap Rabu sore yang membaca sambil menikmati camilan tersedia, kali ini ada kiriman kakak yang baik, sekotak dimsum, dua pouch sistik keju, dan keripik singkong, dan kue putu dengan teh hangat yang selalu disajikan oleh Uwa Cepi, penjaga Museum Shop, toko aneka macam souvenir khas Lebak di Museum Multatuli.
Ada kilas balik (flash back) peristiwa yang terjadi antara Muhamad Firman atau Pada dan Idayu. Ketika Idayu diselamatkan dari rumah tahanan untuk dibawa ke gua persembunyian, lalu melintasi padang alang-alang menyeberangi padang rumput pendek, melewati desa pertama, desa kedua, ketiga dan sampai ke jalan negeri. Berkali-kali Idayu melihat tatapan mata Pada yang aneh, yang kemudian diakui Pada bahwa dirinya mencintai Idayu. “Dia mencintaimu, Idayu,” bisik suaminya. “Kasihan. Begitu muda,” jawab Idayu dan membuang muka.
Memang, cinta itu kadang-kadang tak ada logika, kata Agnes Mo. Tidak menutup kemungkinan juga itu terjadi di antara teman-teman #BacaDiRangkas. Witing trisno jalaran soko kuliner, kalo sering kumpul bareng sambil baca buku Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer ditemenin camilan dan teh, mungkin ada juga tersembunyi tatapan mata aneh seperti Pada ke Idayu. Ygy.
Pokoknya, Bab 30 itu seru banget. Rabu, 4 Juni 2025. Pekan ke-35 #BacadiRangkas
Pokoknya, Bab 30 itu seru banget. Ada cerita Pada yang Islam, ngajarin ngaji ke anak-anak Awis Krambil yang masih beragama Hindu, diprotes orang tua anak-anaknya karena ngajarin hal baru yang dianggap aneh. Masa lelaki dan perempuan harus dipisah duduknya kalo lagi ngumpul. Terus gak boleh makan babi dan binatang bertaring, padahal daging babi itu kesukaan orang-orang Awis Krambil. Ngajarin nulis hurup Arab, padahal maunya orang-orang tua, anak-anaknya diajarin nulis aksara Jawa. Yang lebih fatal lagi, Pada ngelarang makan cacing tanah. Padahal, berabad-abad lamanya cacing tanah jadi makanan pesta yang tak pernah ditinggalkan di setiap musim panen tiba. Setelah dipurut cacing itu direndam dalam air enau selama sehari, kemudian setiap orang memakannya.
Cerita bab ini ditutup dengan kedatangan Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wirabumi dengan membawa oleh-oleh berkeranjang-keranjang garam, ikan asin, dan trasi. Maksud kedatangannya menyampaikan panggilan Sang Adipati Tuban yang mengangkat Wiranggaleng sebagai Senapati yang akan memimpin gugusan Tuban ke Malaka dengan membawa pasukan berjumlah lima ratus orang.
Selanjutnya Bab 31 Kembali ke Malaka.



